Indonesia Independence Day in Taiwan

on Wednesday, August 19, 2009

64th Independence Day of
The Republic of Indonesia

Grand Ballroom I, Hyatt Hotel
Taipei, Taiwan
17th August 2009











(Taken with my Canon 1000D)

Selamat Ulang Tahun Indonesia Ku


Dirgahayu
INDONESIA Ku
Ke - 64


Sudahkah amanat UUD 1945 dilaksanakan???

sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa
dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan

Untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa,
dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial,
maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia

Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya

Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan

Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat

Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat

Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan
Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya

Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara

(sumber: UUD 1945)

Permusuhan Jawa dan Sunda

on Monday, June 29, 2009


Kenapa di jawa barat tidak ada jalan yang bernama gajah mada atau hayam wuruk??Kenapa orang sunda selalu berkata sunda itu bukan jawa??padahal sama-sama berada di pulau jawa. Padahal orang-orang jawa tengah, jawa timur, yogyakarta, dan pulau madura mengaku orang jawa. Apa karena permusuhan antara kerajaan Pajajaran dan Majapahit ratusan tahun yg lalu masih berbekas di pikiran orang-orang sunda dan orang jawa jaman sekarang??

Dikutip dari berbagai sumber, permusuhan historis Sunda-Majapahit berawal dari peristiwa Perang Bubat di Jaman Majapahit. Dikisahkan peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda.

Selain ketertarikan sang raja, pernikahan juga untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Padahal, Raden Wijaya, pendiri Majapahit yang masih keturunan Sunda. Maka disepakati, pernikahan digelar di Majapahit.

Melihat Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit, maka timbul niat lain dari Mahapatih Gajah Mada yaitu untuk menguasai Kerajaan Sunda, sebab untuk memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya tersebut, maka dari seluruh kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan hanya kerajaan sundalah yang belum dikuasai Majapahit.

Gajah Mada menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit.

Gadjah Mada lantas mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana disebutkan bimbang atas permasalah tersebut, karena Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

Gajah Mada lalu mengerahkan pasukannya, Bhayangkara, ke Pesanggrahan Bubat, lokasi rombongan calon pengantin putri dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit.

Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri dan pejabat kerajaan Sunda, serta putri Dyah Pitaloka.

Akibat peristiwa itu, hubungan Hayam Wuruk dan Gadjah Mada merenggang. Tak hanya itu, hubungan kultural dua kebudayaan pun tak lagi harmonis. Dalam masyarakat Sunda berkembang larangan menikah dengan orang timur Sunda, khususnya Majapahit.

Trauma historis itu terus berlanjut, turun temurun, sampai saat ini.

Kenapa??

Hubungan Kemerdekaan Singapura dengan Indonesia

Udah pernah nulis tentang ini di blog yang lama, cuma pengen nulis lagi aja di blog yang ini. Mungkin masih ada yang belum tau tentang ini.
Dalam sebuah film dokumenter di Metro Tv berjudul “SECRET OPERATION (OPERASI A : SANDI GANYANG MALAYSIA)” yang tayang tanggal 16-1-2009 ada satu hal menarik yang diungkapkan tentang kemerdekaan Singapura.

Setelah perang dunia ke-2 berakhir daerah semenanjung malaka (Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam sekarang) dikuasai oleh Inggris. Ketika itu presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno menentang rencana Inggris yang akan mendirikan negara federasi Malaysia yg terdiri dari Malaya, Serawak, Sabah, Kalimantan Utara, Singapura dan Brunei. Karena Ir. Soekarno berpendapat bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia dan berusaha menekan Indonesia yang saat itu menjadi pelopor “New Emerging Forces”.

Presiden Soekarno saat itu dalam pidatonya di atas podium rakyat mengatakan :
“Saya saat ini mempunyai 21 juta sukarelawan yg siap menyerbu wilayah Kalimantan Utara (Malaysia)
ada 10 serdadu malaysia masuk wilayah RI, maka 100 sukarelawan akan masuk Kalimantan Utara
ada 1000 serdadu Malaysia masuk wilayah RI, maka 10.000 sukarelawan akan masuk Kalimantan Utara

Film dokumenter itu bercerita tentang perjuangan korps komando angkatan laut Indonesia KKO dengan julukannya “Hantu Laut” atau yang saat ini disebut Marinir ketika masa konfrontasi dengan negara-negara bekas jajahan Inggris dulu seperti Malaysia dan Singapura. Dua orang anggota KKO melakukan infiltrasi ke Singapura dan berhasil meledakkan Gedung The Mac Donald House yang menjadi simbol hegemoni Inggris di Asia Tenggara waktu itu. Namun sayangnya kedua orang anggota KKO tersebut ( Serda mar Janatin dan Kopral mar Harun) tertangkap dan dihukum gantung di Singapura.

Secara diam-diam rencana penyerangan Indonesia ke Singapura itu mendapat dukungan dari para aktifis kemerdekaan Singapura yaitu pejabat teras People Action Party (PAP) yang menginginkan negerinya merdeka, yang salah satu tokohnya adalah Lee Kuan Yu. Mereka lalu mengatur kesepakatan dengan Indonesia dan mendukung operasi intelijen marinir serta rencana penyerangan besar-besaran oleh pasukan Indonesia, tujuannya agar inggris cepat-cepat angkat kaki dari negara mereka. Karena prajurit Inggris yang sudah jenuh atau mungkin trauma dengan perang dunia ke-2 memilih untuk pulang ke negaranya daripada harus berperang lagi dengan Indonesia. dan akhirnya Inggris pun memilih meninggalkan Singapura dan memberikan kemerdekaannya pada mereka, dan Indonesia pun tidak jadi menyerang.

Dalam Film dokumenter itu, Pitut Suharto seorang mantan Konsulat Jenderal RI pertama di Singapura yg juga ditugaskan memata-matai Singapura saat itu, menjelaskan arti dari bendera Singapura waktu baru merdeka (entah sekarang mungkin sudah ada arti lainnya lagi, tapi inilah inspirasi pertama mereka dulu waktu baru merdeka)

ARTI BENDERA ITU AWALNYA ADALAH :

1. Merah Putih
karena menghargai Indonesia yg telah berjasa mempercepat kemerdekaan mereka, maka Singapura terinspirasi mengambil dasar warna bendera kita yaitu : merah putih sebagai tanda bahwa mereka berada ditengah2 Indonesia.
Kini warna merah tsb diartikan sbg persaudaraan dan kesamaan segala manusia sementara warna putih nya sbg kesucian dan kebaikan.

2. Bintang 5
ditambahkan bintang 5 biji dipojok atas itu adalah pengadopsian dari Pancasila yg mempunyai 5 Sila, krn waktu itu Singapura belum memiliki dasar atau falsafah negara.
Kelak setelah mereka kini telah mempunyai falsafah negara, kemudian arti 5 bintang itu adalah : demokrasi, keamanan, kemajuan, keadilan dan kesaksamaan (democracy, peace, progress, equality and justice)

3. Bulan Sabit
lambang bulan sabit itu adalah sebagai tanda bahwa Singapura sangat menghargai bahwa mereka hidup ditengah2 masyarakat yg mayoritas muslim. belakangan kemudian bulan sabit itu juga diartikan sbg sebuah negara muda yang sedang maju

Dalam konfrontasi ini pihak Indonesia kehilangan sebanyak 168 orang yang gugur dan 520 orang yang ditawan. Masih banyak dari mereka yang jasadnya masih belum dipulangkan ke Indonesia.

Untuk video nya bisa dilihat di:

Part 1

Part 2

Part 3


Banten



Iya..
Aku memang orang Banten
Ibu dan Bapak ku asli orang Banten
Aku lahir di Tanggerang Banten (walaupun ketika aku lahir masih termasuk Jawa Barat)
12 tahun aku tinggal di Tanggerang Banten

Untuk yang belum tau apa itu Banten, ini sedikit info tentang Banten:

Banten terletak di bagian Barat pulau Jawa yang melingkupi daerah kabupaten Lebak, Pandeglang, Serang, Cilegon dan Tangerang. Di sebelah Utara terdapat laut Jawa dan sebelah Barat terdapat selat Sunda. Sebelah Selatan terletak Samudera Indonesia dan sebelah Timur terbentang dari Cisadane sampai Pelabuhan Ratu. . Kini jumlah penduduk Banten sekitar 8.098.277 orang dengan komposisi 95,89 % beragama Islam, 1, 03 % beragama Katolik, 1, 59 % beragama Protestan, 0,22 % beragama Hindu, 1,15 % beragama Budha. Sisanya memeluk agama lokal (sunda wiwitan), yakni orang-orang Baduy.

Suku Banten, lebih tepatnya Orang Banten adalah penduduk asli yang mendiami bekas daerah kekuasaan Kesultanan Banten di luar Parahiyangan, Cirebon dan Jakarta. Orang Banten menggunakan bahasa Banten. Bahasa Banten adalah salah satu dialek bahasa Sunda yang lebih dekat kepada bahasa Sunda kuno yang pada tingkatan bahasa Sunda modern dikelompokkan sebagai bahasa kasar.

Masyarakat Islam Banten, dalam tradisi keislaman di Indonesia pada masa lalu, dikenal lebih sadar-diri dibandingkan dengan daerah lainnya di Jawa. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa Islam sangat berpengaruh dalam pembentukan dan perkembangan masyarakat Banten.

Sebagian besar penduduk Banten berketurunan orang Jawa dan Cirebon. Dalam perjalanan waktu, penduduk ini berbaur dengan orang-orang Sunda, Bugis, Melayu dan Lampung. Perbauran yang begitu dalam menyebabkan penduduk Banten memiliki perbedaan-perbedaan dalam hal bahasa dan adat istiadat dengan masyarakat asalnya. Begitu pula dalam hal penampilan fisik dan watak, orang Banten menunjukkan perbedaan yang nyata dengan orang Sunda, orang Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di antara unsur-unsur yang membentuk kebudayaan mereka hampir tak terdapat ciri-ciri peradaban Hindu-Jawa. Karena Islam mengalami penetrasi yang sangat dalam pada masyarakat Banten.

Di Banten yang pernah menjadi pusat kerajaan Islam dan penduduknya yang terkenal sangat taat terhadap agama, sudah sewajarnya kyai menempati kedudukan yang signifikan dalam masyarakat. Kyai yang merupakan gelar ulama dari kelompok Islam tradisional, tidak hanya dipandang sebagai tokoh agama tetapi juga seorang pemimpin masyarakat. Kekuasaannya seringkali melebihi kekuasaan pemimpin formal, terutama di pedesaan. Pengaruh kyai melewati batas-batas geografis pedesaan berdasarkan legitimasi masyarakat untuk memimpin upacara-upacara keagamaan, adat dan menginterpretasi doktrin-doktrin agama. Selain itu, seorang kyai dipandang memiliki kekuatan-kekuatan spiritual karena kedekatannya dengan Sang Pencipta. Kyai dikenal tidak hanya sebagai guru di pesantren, juga sebagai guru spiritual dan pemimpin kharismatik masyarakat. Penampilan kyai yang khas merupakan simbol-simbol kesalehan.

Di samping kyai, Jawara merupakan kelompok lain yang juga menembus batas-batas hirarki pedesaan di Banten. Jawara dikenal sebagai seorang yang memiliki keunggulan dalam fisik dan kekuatan-kekuatan untuk memanipulasi kekuatan supranatural (magic), seperti penggunaan jimat, sehingga ia disegani oleh masyarakat. Sosok seorang jawara memiliki karakter yang khas. Ia cukup terkenal dengan seragam hitamnya dan kecenderungan terhadap penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalan. Karena itu, bagi sebagian masyarakat, jawara dipandang sebagai sosok yang memiliki keberanian, agresif, sompral (tutur kata yang keras dan terkesan sombong), terbuka (blak-blakan) dengan bersenjatakan golok, untuk menunjukan bahwa ia memiliki kekuatan fisik dan supranatural.

Lalu mengapa??

reff:
http://sahabatsilat.com/forum/index.php?topic=60.0

http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Banten

kerjain lagi gih thesisnya...jangan dipikirin yg ini

Semburan lumpur yang lain

on Monday, June 22, 2009


Peristiwa itu terjadi di Kampung Astana, Desa Walikukung, Kecamatan Carenang, Serang, Banten. Bermula saat seorang tukang bor, Sabtu (20/6/2009) dini hari, memompa sumur untuk kemudian dijadikan pusat air bersih di sebuah pusat kesehatan desa (puskesdes).

Saat sedang memompa, tiba-tiba saja lumpur bercampur pasir menyembur dari dalam tanah. Tak hanya itu, menurut warga setempat yang langsung berkerumun di sekitar semburan, lumpur itu juga mengeluarkan bau yang menyengat.

Akibat semburan lumpur tersebut, bagian atap puskesdes yang berada tak jauh dari lokasi lumpur hancur. Untuk menghindari hal yang lebih fatal, pembangunan puskesdes pun terpaksa dihentikan untuk sementara waktu.


Lumpur lapindo belum beres ini sudah muncul lg di serang, semoga yg ini ga jadi kaya lumpur lapindo.

-yang tempat mudiknya lewat kota serang-

Setelah Sipadan dan Ligitan

on Wednesday, June 3, 2009


"Sebagai negara, kita telah tjukup mempunjai pantja indera. Negara ada. Pemerintah ada. Tentara ada. Rakjat ada. Kalau kita sekarang tidak mempunjai keinginan untuk terus merdeka, samalah artinja dengan baji jang tidak mau mendjadi manusia sempurna. Baji akan tetap tinggal mendjadi baji, digendong, ditimbang. Ia lebih dahulu lumpuh sebelum tumbuh."

Amanat Panglima Besar Jenderal Soedirman kepada Anggota Angkatan Perang, 17 Agustus 1948



Mahkamah Internasional (International Court of Justice) 17 desember 2002 pukul 16.00 WIB telah memutuskan bahwa Malaysia memiliki kedaulatan atas Pulau Sipadan-Ligitan. Hasilnya, dalam voting di lembaga itu, Malaysia dimenangkan oleh 16 hakim, sementara hanya 1 orang yang berpihak kepada Indonesia. Dari 17 hakim itu, 15 merupakan hakim tetap dari MI, sementara satu hakim merupakan pilihan Malaysia dan satu lagi dipilih oleh Indonesia.

Kemenangan Malaysia, kata menteri l
uar Negeri Hasan Wirajuda, berdasarkan pertimbangan effective, yaitu pemerintah Inggris (penjajah Malaysia) telah melakukan tindakan administratif secara nyata berupa penerbitan ordonansi perlindungan satwa burung, pungutan pajak terhadap pengumpulan telur penyu sejak tahun 1930, dan operasi mercu suar sejak 1960-an. “Sementara itu, kegiatan pariwisata yang dilakukan Malaysia tidak menjadi pertimbangan, serta penolakan berdasarkan chain of title (rangkain kepemilikan dari Sultan Sulu),” kata Menlu. Di pihak yang lain, MI juga menolak argumentasi Indonesia yang bersandar pada konvensi 1891, yang dinilai hanya mengatur perbatasan kedua negara di Kalimantan. Garis paralel 14 derajat Lintang Utara ditafsirkan hanya menjorok ke laut sejauh 3 mil dari titik pantai timur Pulau Sebatik, sesuai dengan ketentuan hukum laut internasional pada waktu itu yang menetapkan laut wilayah sejauh 3 mil.

Tentang tindak lanjut pasca keputusan MI, menteri menyatakan, langkah pertama yang diambil adalah merumuskan batas-batas negara dengan negara-negara terdekat. “Untuk Sipadan-Ligitan akan ditarik batas laut wilayah sejauh 12 mil dari lingkungan dua pulau tersebut,” katanya. Mengenai kerugian yang diderita, Wirajuda menegaskan tidak ada. “Kita hanya kehilangan dua pulau, Sipadan dan Ligitan,” kata dia.

(http://www.dephan.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=3362)

There are at least four more islands that Indonesia might lose if the principle of continuous administration. The four islands still in question are Nipah off Riau province, which is now controlled by Singapore; an unnamed small island off West Kalimantan province occupied by Thai fishermen; Miangas island off Sangir Talaud in North Sulawesi, currently occupied by Philippine fishermen; and Ashmore reef, situated south of Kupang, the provincial capital of Indonesia's East Nusa Tenggara (NTT). Ashmore reef, which had for centuries been a staging point for fishermen from Rote island in NTT, has been occupied by Australia, while Indonesia makes no attempt to regain control over the island, where ancestors of Rote people are believed to have been buried.

Aside from these four islands, however, more than 80 small islands are scattered across Riau, North Sulawesi, Maluku, West Nusa Tenggara, East Nusa Tenggara, and Papua provinces. Most of those islands are neglected though they form part of the country's territorial boundary. Theoretically, other countries could come and take over those "neglected" islands and should Indonesia protest, they could insist on bringing their case to the international court, where they could be expected to win in the light of the principle of sovereignty exercise or continuous administration.

Indonesia, the world's biggest archipelagic country, stretching almost 5,000 kilometers from the Asian mainland into the Pacific Ocean, has more than 17,000 islands, only 3,000 of which are inhabited. The rest are not only unoccupied but also left neglected, and most of them don't even have a name. Fears are running high that Indonesia could lose some of these unnamed islands.

(http://www.atimes.com/atimes/Southeast_Asia/DL21Ae01.html)

Setelah Sipadan dan ligitan lepas, apa kita masih mau kehilangan pulau lainnya??

referensi lainnya
daftar pulau-pulau terluar indonesia:
http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_pulau_terluar_Indonesia
Ekspedisi Pulau terluar:
http://www.garisdepannusantara.org/